Home / Berita Umum / Guru Besar Undip Terkena Hukuman Kampus

Guru Besar Undip Terkena Hukuman Kampus

Guru Besar Undip Terkena Hukuman Kampus – Guru Besar pengetahuan hukum Undip Semarang, Prof Suteki SH MHum ramai diperbincangkan sehabis postingannya di medsos bab HTI viral. Dia keberatan apabila dianya sendiri dimaksud anti-NKRi serta anti-Pancasila.

Menurut dia pikiran itu seakan tdk memandang dedikasinya mengajar terkait Pancasila mulai sejak 24 th. kemarin.

Hal semacam tersebut dinyatakan Suteki menyusul pernyataan pihak kampus yg dapat memberikannya hukuman pada staf yg melaksanakan ujaran atau aksi yg bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, serta NKRI. Undip lantas menyadari Prof Suteki jadi salah satunya yg terancam hukuman.

Salah satunya pembawa hingga selanjutnya Suteki masuk salah satunya staf yg terancam hukuman itu merupakan lebih dari satu tulisan di medsos yg di anggap bertentangan dengan NKRI.

Suteki mengemukakan, medsos dalam hal tersebut facebook benar-benar ia pakai buat bicara serta lebih ke ajukan pertanyaan dengan pandangan sisi hukum sesuai sama keahliannya. Lebih dari satu postingannya bertanya bab HTI, Khilafah, sampai moment terorisme.

” Orang bisa ajukan pertanyaan, di facebook saya ajukan pertanyaan, janganlah disangka saya untuk statment. Apakah penyerangan suatu golongan itu suatu teroris? ” kata Suteki mencontohkan pertanyaan dalam account facebooknya waktu didapati di gedung Magister Pengetahuan Hukum Undip, Rabu (23/5/2018) .

Selanjutnya perihal dihubungkannya ia dengan HTI, Suteki mempertegas dianya sendiri bukan hanya anggota HTI. Keterkaitannya yakni waktu disuruh jadi saksi paka dalam penggugatan pencabutan tubuh hukum HTI.

” Pas gugatan Perppu Ormas no 2 th. 2017 saya jadi paka di Mahkamah Konstitusi. Rentetan itu yg selanjutnya dihubung-hubungkan orang, ini orang HTI. Saya tegaskan saya bukan hanya orang atau anggota HTI, ” tegasnya.

” Apabila ditafsirkan saya itu beri dukungan selanjutnya di sebutkan saya anggota HTI, itu terlampau prematur, ” tambah Suteki.

Menurut Suteki, benar-benar ada ungkapan dari HTI dalam satu acara yg cukup ” keras ” , tapi sejauh ia tahu beberapa orang HTI, tiada unsur pemaksaan pemahaman.

” Saya amati rekan-rekan HTI perlakuan enak, tiada ancaman, paksaan pendapat, cuma share pemikiran, tiada pemaksaan-pemaksaan pendapat tukar Pancasila tukar NKRI. Saya diskusi tdk hingga mirip itu. Berfikir Islam itu bagaimana thoriqoh iman bagaimana, sistim pemerintahan yg baik bagaimana, riba bagaimana, mereka lebih diskusi kesana, bukan hanya seandainya muslihat bagaimana. Saya belum pula sempat meski mendengar itu (muslihat) di temen-teman HTI, ” jelas ketua senat Fakultas Hukum Undip itu.

Ia juga memaparkan bab khilafah yg ia menulis di medsos. Suteki mengakui khilafah sebagai ajaran Islam dikarenakan ada bukti, tapi tetap tdk dapat dipaksakan di Indonesia yg sebagai negara Demokrasi.

” Mengapa saya katakan khilafah sisi dari ajaran Islam, dikarenakan di buku fikih atau pelajaran anak sekolah kita tahu bagaimana mendalami terkait khilafah, sistem khilafah, khilafah apa itu, ada khalifah ada khilafah, zamannya terbentang dari th. kapan hingga paling akhir 1924, itu ada pada pelajaran, realita histori. Bagaimana kita katakan itu tdk sempat ada? ” terang Suteki.

” Kesulitan selanjutnya khilafah ini sistim pemerintahan ya bukan hanya ideologi atau mengetahui selanjutnya tdk dapat dilakukan di Indonesia jaman waktu ini, tdk bisa dipaksakan, itu kesulitan beda, ” ujarnya.

Pria sebagai guru besar mulai sejak umur 40 th. itu menyayangkan apabila dianya sendiri dimaksud anti NKRI atau Pancasila. Dikarenakan menurut dia sepanjang 24 th. mengajar Pancasila di Undip, Kampus beda, sampai Akademi Kepolisian, ia sekalipun tdk sempat menentang Pancasila dalam pelajarannya.

” Tulisan saya ini tdk punya maksud hingga anti pancasila anti NKRI dikarenakan tack record saya terang. Saya pengajar pancasila 24 th.. Renungkan ngomong bab pancasila. Cobalah bertanya anak didik saya, apa sempat saya ajari anti NKRI anti pancasila? Tdk. Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat jadi pandangan hidup, dalam kehidupan berbangsa sebagi ideologi bangsa, dalam kehidupan bernegara jadi basic negara, di internasional jadi the margin of appreciation, saya utarakan one by one. Tdk dapat di sebutkan anti pancasila, ” tegasnya.

About admin